Laman

Kamis, 05 Januari 2017



Fenomena Om Telolet Om dalam Bingkai Jean Baurdillard
Oleh :
Dwi Endah Rosalita
Sosiologi 2014

 


Om telolet om sudah tidak asing kita dengar saat ini,  seluruh media  sosial tengah ramai membicarakan 2016  lalu. Om telolet om ini  adalah   panggilan   anak-anak  kecil   di jepara, jawa timur   yang  kemudian   tersebar luas keseluruh   dunia. Fenomena om telolet ini berawal  dari video yang diunggah  dalam chanel  youtube berjudul  Bus Telolet.
Jadi apa sebenarnya om telolet om itu? Om telolet  om  sendiri  sudah  menjadi berbincangan netizen dan bahkan artis Indonesia dan artis dunia dan bahkan tokoh dunia juga mempertanyakan apa itu Om telolet om?  Berawal dari  akun media sosial yang dipenuhi hastag #omteloletom #teloletchallenge #teloletgointernasional. Dan kemudian artis bintang top dunia seperti DJ kelas dunia; Marshmellow, Martin Grixx, Snake, Skrillex, dan artis lainnya seperti zedd, Taylor Swift,  Marc Marquez, dan melalui akun twitter zedd OM TELOLET OM.
Telolet adalah kata yang digunakan oleh orang Indonesia untuk menggambarkan suara klakson yang unik dari kedengarannya. Bunyi klakson tersebut dapat bersumber dari kendaraan apapun, akan tetapi dalam kasus ini, lebih diutamakan bus AKAP. Jadi kata “Telolet” itu muncul karena bunyinya yaitu “Teeeeelooooooleeeeeet” berulang hingga 2X atau 3X biasanya. (www.learniseasy.com)
Om telolet om adalah kata yang panggilan kepada supir bus untuk membunyikan klakson jadi, “Om”itu sebutan untuk paman atau laki-laki yang sudah berumur lebih tua. Selain itu om sering digunakan oleh para “penjual tubuh” kepada pembeli mereka. Jadi dapat diartikan “Om telolet Om” itu berarti “Om minta bunyikan klaksonnya dong”.
Om telolet om mulai memasuki dunia permusikkan seperti dalam lagu ImeyMey dengan judul lagu Om Telolet Om yang merupakan lagu dangdut. Kemudian dilain tempat dunia mancanegara di Norwgia, pria kebangsaan Norwegia, Audun Kvitland Rostad mengunggah video dengan menyanyikan Om telolet om di akun youtube nya. Dalam video berdurasi 1 menit 48 detik, sebelum bernyanyi, Kvitland membuka dengan cerita bagaimana dia tahu 'Om Telolet Om'. "Selamat pagi dari Norwegia. Sewaktu saya bangun pagi tadi, saya cek Facebook dan Instagram, banyak komentar yang sama. Muncul istilah Indonesia yang jadi viral beberapa hari ini, yaitu 'Om Telolet Om'. Ratusan orang meminta saya untuk membuat lagu ini," ujarnya dikutip dari video yang diunggahnya pada Kamis, 22 Desember 2016. (www.tempo.com).
Dalam lirik lagu 'Om Telolet Om', Kvitland  mengungkapkan jika dia mengetahui frasa yang viral itu dari berbagai komentar orang di akun media sosialnya.
“Saat saya unggah video di Facebook, menunggu komentar orang-orang. ‘Telolet.. Telolet.. Telolet.. Telolet’. Ternyata cuma komentar itu yang saya dapatkan,” senandung Kvitland dalam potongan lirik lagunya. “Saya yakin kalau video ini saya unggah di Youtube. Respons orang akan sama. Telolet.. Telolet.. Telolet’. Ternyata cuma komentar itu yang saya dapatkan.” Tak lupa, Kvitland menyisipkan bunyi klakson bus pada akhir lagunya.(www.tempo.com).
Menurut Wahyu Budi Nugroho Sosiolog Universitas Udayana. “Telolet” adalah prinsip kelangkaan. Tidak setiap bus memiliki klakson telolet. Permainan telolet ini menjadi kian mengasyikan ketika digunakan gawai (baca:hp) untuk menangkap momen “peristiwa” dan bunyian telolet seperti permainan sepakbola yang memertlukan banyak fokus untuk mempertahankan keseimbangan; dari kaki, kemiringan tubuh yang diatur sedemikian rupa, pandangan mata, gerakan tangan seperti orang menari hingga satu tangan anak-anak sarat mengacungkan jempol agar supir bus bermurah hati membunyikan telolet-nya, sedangkan tangan yang lain memngang HP untuk merekam momen tersebut dengan baik, ditambah lagi keharusan anak-anak meneriakan “Om, telolet Om!”kala bus hendak melintas. Permainan telolet mengindikasikan adanya fokus; ketepatan; ketangkasan; kecepatan, serta spontanitas karena berlalunya bus tak dapat diulang lagi dan ketika bunyian telolet diperoleh, maka kepuasan tingkat tinggi  pulalah yang dituai anak-anak. (www.kolomsosiologi.blogspot.co.id)
Internet adalah salah satu teknologi komunikasi yang sangat melekat dalam kehidupan masyarakat kontemporer, hampir setiap hari internet dipergunakan sebagai sarana untuk memperoleh berbagai informasi dan untuk menjalin komunikasi internet. Internet sendiri sebagai jaringan yang bertujuan untuk dapat saling berkomunikasi atau berbagi data. Masyarakat saat ini mulai berlomba-lomba untuk memiliki akun media sosial dan berlomba-lomba untuk eksis dalam media sosial. Agar mereka tidak ketinggalan informasi masyarakat selalu mengugrade informasi terbaru.
Postmodern tidak pernah dilepaskan dari postmodernisme, postmodernisme dapat diartikan sebagai paham yang menolak grand narration dan kebenaran absolut sebagi tolak ukur pada era modern. Postmodernisme, adalah paham yang banyak mengangkat semiotika sebagai  persepektif  dalam melihat fenomen kehidupan masyarakat postmodern. Salah satu tokoh postmodernisme yang erat dengan semiotika dan pengkajian persoalan media dalam masyarakat postmodern adalah Jean Baudrillard.
Jean  Baudrillard  adalah  salah  seorang  tokoh kunci dalam konsep pascamodernisme atau postmodernisme. Pemikiran Baudrillard dikenal sebagai kritik terhadap budaya yang berkembang pada masyarakat kontemporer, terutama penggunaan media massa. Internet sebagai salah satu perkembangan media informasi dan komunikasi massa telah memicu berbagai dampak pada kehidupan masyarakat kontemporer.
Baudrillard menyatakan bahwa masyarakat saat ini tidak lagi didasarkan pada pertukaran barang material dengan nilai guna, namun lebih pada komoditas sebagai tanda dan simbol yang pembentukkannya sepenuhnya bersifat sewenang-wenang dan mempunyai signifikansi sejauh berada di dalam “kode”. Hal yang demikian, mengakibatkan tindakan konsumtif yang mengedepankan cirta dan prestise. Baurdillard juga menyatakan bahwa masyarakat sedang terbelenggu tatanan cybernetics neocapitalist, teknologi inggi menghadpakan masyarakat pada probem besar, hal ini karena neocapitalist memiliki tujuan dan kontrol total. Menurut  Baudrillard,  masyarakat  berada  pada hipperrealitas model-model dan  kode-kode  yang  sangat  mempengaruhi  pola pemikiran, tingkah laku dan makna. Media informasi, hiburan, komunikasi memberikan pengalaman yang kuat dan dominan seta melibatkan kehidupan sehari-hari yang dangkal. Situasi ini kemudian mengantarkan masyarakat pormodern ke dalam ektase yang penuh dengan hiperrealitas melalui ranah atau dunia komputerisasi, multimedia serta berbagai pengalaman yang diberikan teknologi baru/teknologi canggih. Kemudian dalam analisis nya Om telolet om yang dipenuhi oleh media sosial seakan membuat kebiasaan baru terjadi dilakukan dan sesuatu baru yang menyenakan untuk di praktikkan  dalam kehidupan sosial seperti fakta yang  terjadi  bahwa  masyarakat  tidak  enggan  untuk  melakukan  aksi menganggakat tangan dan selembaran di pinggir jalan dan meneriakan Om telolet om. Dalam teori kode Jean Baurdillard mengatakan  dan  memandang kita bergerak dari suatu  masyarakat yang dominasi oleh tanda dan  kode yang diasosiasikan  dengan  komoditas-komoditas ke suatu masyarakat yang didominasi oleh tanda-tanda dan  kode-kode secara umum , dia memahami kita bergerak ke arah “universal pembentukan suatu sistem tanda yang abstrak dan bisa dijadikan contoh”.[1]
Om telolet om menjadi sebuah ajang dimana dalam membunyikan klakson tidak harus ketika ingin meninformasikan kepada sesama pengendara lain bahwa ada kendaraan lain disana. Bahkan dengan menyembunyikan klakson biasa mengganggu pendengaran kita,karena kelakson pada dasarnya dibunyikan hanya sekali dan terdapat nilai moral kode dalam suara klakson tersebut. Keberadaan Om telolet om yang memenuhi media sosial seakan membuat kita ingin ikut dalam kegiatan didalamnya dengan mencari bus yang akan lewat dengan membawa kertas bertulisan “Om telolet om” dan Hp ditangan yang kemudian kita mengupload kegiatan tersebut ke dalam media sosial.
Baudrillard mengatakatan “kita paham bahwa sekarang era berada pada tingkat reproduksi (fashion, media, publisitas, informasi, dan jaringan komunikasi), pada tingkat yang secara serampangan disebut  Marx dengan sektor kapital yang tidak esensial... artinya dalam ruang simulakra, kode, proses kapital global ditemuakan”. Baudrillard juga berpendapat, bahwa kita telah bergerak “dari masyarakat produktivis-kapitalis ke tatanan cybernetik-neokapitalis dan sekarang memiliki tujuan kontrol secara total”. Baudrillard menguraikan realitas ini dalam berbagai cara. Misalnya  sekarang ini hidup pada akhir zaman interpretasi, dalam “kotak hitam kode”. Jadi kita tidak benar-benar mengerti apa yang tejadi pada masyrakat kontemporer. Dan juga melihat bahwa hidup kita pada “akhir evolusi dialektika... tidak ada lagi finalitas, juga determinasi”. (George Ritzer,2003.Teori Postmodern hal:165)
Fenomena om telolet ini  lebih banyak disukai oleh netizen dan bahkan di kalangan muda , terkadang sungguh  aneh  hampir semua masyarakat ikut menyuarakan om telolet om namun, untuk melakukan sesuatu yang  realitas dan berguna untuk orang banyak seperti banjir yang terjadi di Bima, Aceh dan kejadian di Appelo yang tertelan mati, bahkan  tidak terekspos oleh media sosial lebih luas dibandingkan om telolet om. Bahkan dalam berita politik, yang  menyuarakan apspirasi tentang  politik  di Indonesia kalah dengan om telolet om. Media sosial yang dalam fungsinya sebagai alat pembantu untuk mempermudah komunikasi yang saat ini hanya menjadi suatu tempak konsumerisme dengan menjadikan sesuatu hal yang membuat diri seorang eksis dengan hal yang sedang buming.
 Hal ini bisa dijadikan pengalihan isu kepada media sosial untuk  melupakan dan mengabaikan informasi yang lebih penting. Namun, Om telolet Om sebagai bentuk aspirasi keunikan dari bunyi klaskson yang unik. Dan demam Om telolet om ini menjadi sesuatu  yang cepat eksis dan kemudian menghilang namun, dalam pengaruh perubahan sosial  yang   kemudian  menjadi  konstruk  berfikir bahwa bunyi klakson telolet itu menjadi sebuah sejarah yang bisa buming hingga ke seluruh dunia.  
 


[1] George Ritzer.2003.Teori Post Modern.Yogyakarta:Juxtapose research and Publication study club.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimaksih atas kunjungan anda
Mohon untuk berkomentar yang sopan, tidak mengandung kalimat yang berbau kekerasan atau kriminal